Sabtu, 20 Agustus 2011

Bicara soal Saudara Sebelah Real Madrid, dan Mourinho





Catatan Cules




"The Telegraph Menulis Madrid Pertimbangkan Pecat Mourinho"



FC BARCELONA INDONESIA - Saya ingin membicarakan soal Real Madrid. Cules sering menyebutnya sebagai musuh, tapi kali ini saya sebut sebagai saudara. Konflik memang perlu supaya menarik, tapi kalau sudah keluar batas dan tidak sehat, rasanya galau juga. Lho apa urusannya dengan Cules, kok ngomongin internal rival? Ya, bagaimanapun, Real Madrid dan Barcelona adalah duo Spanyol yang mengangkat La Liga. Apa jadinya Barcelona jika tak ada Madrid? Ya jadi pemenang sendirian di La Liga, tak ada tantangan berarti. Jadi, pointnya bagi saya, rivalitas memang perlu, tapi jangan keblabasan.

Sekarang bicara soal Mourinho, President Real Madrid Florentino Perez diberitakan telegraph mulai hilang kesabaran dengan tingkah Mourinho setelah malam yang memalukan itu.

Jose Mourinho menghadapi masalah pertama dalam karirnya di Bernabeu setelah muncul kegelisahan yang meningkat dan ketidaksabaran atas ulahnya yang kontroversial. Penguasa Madrid mempertimbangkan untuk memecat Mourinho jika di musim keduanya ini pelatih asal Portugis tersebut tak juga membawa kesuksesan bagi Madrid.

Artikel Terkait

1. Peran Penting Alves di El Clasico Leg Kedua
2. Ngobrol soal Statistik Tiga Striker Messi, Villa, Pedro di El Clasico
3. Ray Hudson dan Komentarnya yang Berapi-Api
4. Messi Luar Biasa (2 gol, 1 Assist), Barca Juara Piala Super Spanyol



Kejadian memalukan itu berawal ketika bek Madrid, Marcelo, melakukan pelanggaran terhadap gelandang Barcelona, Cesc Fabregas, yang berujung kartu merah, pada pertandingan leg kedua Piala Super Spanyol di Camp Nou, Rabu (17/8/2011).

Para pemain kedua kubu pun terlibat terlibat percekcokan. Dalam situasi yang panas dan kacau ini, Mourinho tertangkap kamera "mencolek" sisi kanan wajah Vilanova, asisten pelatih Barcelona. Rekaman sebuah stasiun televisi menunjukkan bahwa Mourinho mencolok mata kanan Vilanova.

Mourinho berada dalam tekanan untuk dapat menyalip Barcelona, baik di kancah domestik maupun di Liga Champion. Perez dan penguasa Madrid lainnya diberitakan memperpendek target Real Madrid untuk meraih gelar. Pérez sebelumnya memecat Jorge Valdano, pria yang disebut sebaga tokoh setia Madrid, atas perintah Mourinho.

Eugenio Martinez Bravo


Dari seluruh komentar tentang kepemimpinan Mourinho di Bernabeu, yang paling saya ingat/kagumi adalah komentar dari Presiden organisasi pendukung Real Madrid, Plataforma Blanca, Eugenio Martinez

Bravo, menilai payah performa "Los Blancos" di dalam dan di lapangan untuk musim 2010-2011. Menurut dia, hal itu karena Presiden Madrid Florentino Perez hanya membangun proyek jangka pendek dan kurang terbuka terhadap kritik.

"Pertama-tama Plataforma Blanca ingin mengucapkan selamat kepada Real Madrid atas gelar Copa del Rey yang dimenangkan tim utama musim ini. Gelar sangat diinginkan, disukai, dan ditanyakan oleh semua pendukung Madrid. Kami juga senang menikmati dan menyadari peningkatan kualitas tim dan permainan," ujar Bravo.

"Namun, pencapaian ini tidak cukup bagi kami. Kami tahu kepemimpinan Florentino Perez kurang seimbang. Investasi penting telah dilakukan dalam dua tahun terakhir. Kualitas dan kekuatan staf dengan keberadaan salah satu pelatih terbaik dunia membuat pendukung berharap banyak, tetapi tidak terpenuhi."

"Finis sebagai runner-up di Liga BBVA dan tidak tampil di final Liga Champions tak pernah dipertimbangkan sebagai prestasi memuaskan bagi klub kami."

"Semua ini membuat kami merefleksikan model organisasi yang diimplementasikan Florentino Perez dan kekhawatiran kami terhadap perubahan terus-menerus dan ketiadaan agenda yang jelas."

"Kami menghormati model organisasi sekarang, tetapi kami tidak sepakat. Kami mendukung klub kami sepanjang tahun dan kami ingin merayakan sebanyak mungkin gelar besar. Namun, kenyataannya, dari tahun ke tahun kami melihat dengan khawatir ketiadaan program yang jelas, menentukan, dan stabil yang dibutuhkan untuk jangka panjang dan filosofi juara."

"Sasaran umum adalah menjadi klub terbaik di abad XXI. Tahun ini Real Madrid tak mencapai target sesuai potensi, mengorbankan segala hal yang tidak sebetulnya banyak yang tidak perlu, pengusiran, laporan kepada UEFA, wasit, konflik dengan klub lain, tim, semua pelatih, konflik internal serius. Keluarnya Jorge Valdano adalah bagian baru dari interupsi terhadap program awal."

"Jangan pernah kita lupakan siapa diri kita dan dari mana kita datang. Kita harus berjuang dengan senjata yang membuat diri kita besar, beradaptasi dengan era baru, di mana rival kita telah menjadi lebih kuat dan kompetitif."

"Begitu banyak pemain dan pelatih yang keluar masuk ke klub ini. Tak ada kesabaran dan konsistensi jangka panjang yang berkelanjutan dan tetap."

"Kami melihat dengan cemas mereka yang menjadi tulang punggung hilang. Mereka yang keluar lewat pintu belakang, yaitu Vicente Del Bosque setelah membawa tim memenangi gelar Eropa kesembilan, Fernando Hierro, Raul Gonzalez pada musim lalu, dan Valdano, yang telah menjadi pria sejati Madrid."

"Real Madrid harus menjadi institusi yang menjadi contoh dalam segala hal. Hanya itu cara menjadi klub terbaik dunia, di dalam dan di luar lapangan. Kami ingin pelatih yang lebih baik, pemain yang lebih baik. Institusi Real Madrid harus berada di bawah sesuatu yang lebih besar dari segalanya."

"Klub ini harus menjadi klub untuk semua, klub yang demokratis, bagus, juara, dan dicontoh," paparnya.

Pernyataan dari Eugenio ini disampaikan beberapa bulan lalu sesudah Madrid memenangi Copa Del Rey. Dengan adanya situasi yang sama terjadi lagi - kontroversi Mourinho -, mungkin baiknya penguasa Madrid mempertimbangkan lagi kepemimpinan Mourinho. (cules indonesia/dari berbagai sumber)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar