Rabu, 14 September 2011

5 Hal yang Kita Pelajari dari Hasil Seri Melawan AC Milan

Messi dan kawan-kawan melongo setelah ditahan imbang 2-2 oleh Milan

CULES BARCA - Barca telah menunjukkan daya magisnya, menggerogoti tim terbaik di Italia dengan hanya menyisakan 25 persen penguasaan bola. Messi bermain fantastis dan tendangan bebas Villa sungguh suatu pukulan menghujam yang akan membuat tim manapun ternganga.


Cukupkah?

Tidak

Sesungguhnya, Barcelona telah bermain dengan hampir sempurna selama 5.350 detik pertandingan. Masalahnya adalah, Barcelona butuh bermain total selama 5.400 detik. Dua gol AC Milan di 30 detik awal pertandingan dan 30 detik akhir pertandingan rasanya menjadi tanda yang jelas.


Dalam sepak bola, Anda harus bermain penuh selama 90 menit.

Dalam sepak bola, Anda tidak boleh menganggap remeh lawan.

Dalam sepak bola, kemenangan membutuhkan konsentrasi penuh.

dan dalam sepak bola, seorang juara tahu bagaimana menghabisi suatu pertandingan.


Katakan pada saya jika kata-kata di atas masih bisa didebat.

Barcelona bermain cukup bagus dalam pertandingan Rabu dinihari dan sangat layak untuk menang. Hanya ada dua moment "kecolongan" yang berhasil dimanfaatkan AC Milan dengan sangat baik. Seperti dikatakan Allegri sebelum pertandingan. "Barcelona mempunyai teknik yang bagus dan pertandingan sering berjalan satu arah karena mereka menguasai bola sepanjang waktu, tapi pasti ada saat-saat di mana mereka lengah."

Dan, kata-kata Allegri sangat-sangat mencerminkan situasi laga kemarin. Tiga shot on goal, dua di antaranya benar-benar berbuah gol, tepat di saat Barcelona berada di titik-titik kelemahannya.

Di luar hasil itu, Lionel Messi bermain dengan cemerlang, dan Cesc Fabregas berhasil membuat penampilan debut Liga Champions (dengan baju merah biru) yang cukup memuaskan setelah menggantikan Iniesta di pertengahan babak pertama.

Tak terduga siapapun, Pato membuat gol sensasional di babak pertama, ketika Macherano bahkan belum sempat meregangkan semua otot-ototnya untuk menghadapi laga penting ini. Gol Pato lahir dari assist Antonio Nocerino memanfaatkan kecepatan larinya yang luar biasa. Bola kemudian dia lesakkan melewati kolong Viktor Valdes.

Milan tampak akan memberikan perlawanan berarti bagi Barca setelah mampu mencetak gol di menit pertama babak pertama, tapi ternyata ancaman-ancaman dari tim asuhan Allegri itu hanya berlangsung tidak lebih dari 10 menit. Barca dengan gaya aslinya mampu mendominasi pertandingan dan membuat permainan hanya berjalan satu arah. Hampir seluruh waktu di babak pertama bola bergulir di wilayah AC Milan.

Barcelona yang menguasai bola sepanjang permainan akhirnya memecah kebuntuan melalui pergerakan Lionel Messi yang dengan kecepatannya mampu "over lap" Abate di menit 36. Larinya yang cepat diakhiri dengan umpan menyusur tepat di depan gawang dan diselesaikan oleh Pedro. 1-1 kedudukan.

Messi sebelumnya sudah berulang kali mengancam gawang Milan melalui beberapa kali tendangan ke arah gawang, termasuk tendangan bebas pisangnya pada menit 18 yang membentuk mistar gawang.

Barcelona tampak akan memenangkan pertandingan karena hingga waktu normal babak kedua berakhir, kedudukan masih 2-1 untuk Barcelona. Gol kedua El Barca diciptakan oleh David Villa melalui tendangan bebas ke sudut kiri gawang pada menit 50.

Petaka datang bagi publik Catalan kala Sedorf berhasil mengirim umpang matang dari sepakan pojok yang berhasil diselesaikan oleh Thiago Silva melalui sundulun keras yang dak dapat diselamatkan Valdes di menit 92.

Ok, Inilah 5 Hal yang kita pelajari dari hasil seri melawan AC Milan


1. Kesimpulannya, Barca Tetaplah Manusia

Jika Anda berkesimpulan bahwa Barcelona adalah tim super yang tak terkalahkan, mulailah untuk mengoreksi semua hal itu. Hasil ini menegaskan bahwa FC Barcelona adalah kumpulan manusia pemain bola, istimewa memang tapi bukan tim dari planet lain.

Setelah mampu menggapai gelar La Liga untuk tiga kali berturut-turut, dan dua gelar Liga Champions dalam tiga tahun terakhir, beberapa orang membicarakan Barcelona sebagai tim super tak terkalahkan. Agak berlebihan, tapi begitulah. Barca mampu membuat tim sekelas MU tak berdaya di Final Liga Champion dua kali berturut-turut.

Tapi, pertandingan terakhir Barca melawan Milan menunjukkan bahwa Barca juga manusia yang kadang kehilangan konsentrasi dan kadang frustrasi.

Sepanjang saya menonton pertandingan Barcelona, baru kali ini saya melihat Barca kebobolan begitu cepat lewat peluru "Pato".

10 menit pertandingan berjalan, pertahanan Barcelona juga nampak sangat mudah ditembus. Jika tak ada Keita, Barca mungkin kebobolan lagi oleh Pato.

Tetapi hanya 10 menit itu Barca memberi peluang untuk AC Milan. Selanjutnya, Blaugrana mendominasi dengan 75 persen penguasaan bola. Sangat njomplang rasanya untuk tim sekelas AC Milan. El Barca, sesuai dugaan saya, berhasil berbalik unggul lewat gol Pedro dan Villa. Supremasi Barca tercermin lewat 22 shot, dan 7 di antaranya on goal.

2. Tapi, Lionel Messi Tidak (bukan manusia)

Ok, ok Messi adalah manusia biologis, tapi kemampuannya bermain bola berada dua level (bahkan lebih) di atas rata-rata manusia. Jadi mau digolongkan apa dia? Wajar rasanya kalau dia disebut alien pemain bola. Masih ragu? Lihat gambar berikut.


Ini adalah kemampuan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Messi. Berhadapan dengan empat pemain lawan, Messi tak gentar dan justru maju, menantang Abate dengan beradu kecepatan, lolos dan berhasil mengoper bola ke tengah. Di sana Pedro sudah menanti. Hanya dalam hitungan detik Messi bisa membuat perbedaan.

Messi juga satu-satunya pemain Barca yang tampak berlari paling cepat, dan mungkin hanya dapat disaingi oleh Pato. Dia merusak pertahanan Milan, membuat Nesta frustasi, membuat Abate menggeleng-gelengkan kepala. Saya berani bertaruh, Abate dan Nesta membicarakan kecepatan Messi di ruang ganti pemain.

Setelah gol Pedro, situasi tampak makin nyaman bagi Barcelona. Gol yang ditunggu-tunggu pun datang dari Villa lewat tendangan bebas dahsyat ke pojok kiri gawang.

Sekali lagi, Messi menegaskan dirinya sebagai pemain terbaik di dunia.


3. Kecepatan dan Kekuatan

Dua gol AC Milan tadi pagi dinihari menunjukkan kepada musuh-musuh Barcelona dua cara untuk melawan raja Eropa itu.

Pertama adalah soal kecepatan. Pato dan Milan hanya membutuhkan waktu 24 detik untuk masuk ke jantung pertahanan Barcelona. Itulah yang perlu dilakukan untuk melawan tim dengan umpan-umpan dan skill sempurna; kecepatan.

Arsenal juga melakukan hal yang sama ketika bermain 2-1 dan 2-2 melawan El Barca di Liga Champions di Emirates Stadium. Bukan berarti bahwa kecepatan akan selalu berhasil, tetapi dengan moment dan pemain yang tepat, cara itu akan sukses.

Kedua adalah soal kekuatan. Tak ada pemain tinggi berbadan tegap di jantung pertahanan Barcelona membuat beberapa hal menjadi berbeda, terutama ketika harus menghadapi bola-bola mati. Tak adanya Pique sebagai seorang big man di belakang terasa sekali punya dampak di pertandingan kemarin. Probabilitas Thiago untuk menyundul bola di detik-detik terakhir pertandingan rasanya akan berkurang banyak jika Pique ada di sana.

5. Pertahanan Butuh Pique dan Puyol
Tak adanya Pique sejak cedera hamstring pada Agustus lalu mulai benar-benar terasa. Lini tengah dan depan memang tak jadi masalah dan tak ada penurunan kualitas, tetapi di sisi pertahanan? Bisa kita lihat, lawan Sociedad, dua gol dibalas dua gol. Lawan Milan, kemenangan 2-1 digagalkan di detik akhir pertandingan.

Yang ingin saya katakan adalah, kehebatan Barcelona bukan hanya terletak pada sisi tengah dan depan. Justru karena lini belakang tak perlu dikhawatirkan, Xavi di tengah dan Messi di depan dapat bermain dengan nyaman. Tanpa lini belakang yang solid - kendatipun bisa menjebol gawang lawan - Barca akan mudah kebobolan juga.

Jika saja Puyol dan Pique dipasang sejak awal, AC Milan mungkin tak akan punya kesempatan sekalipun untuk membuat shot on goal. Terlalu berlebihan? Tidak, Barca pernah melakukan itu ketika menjamu Arsenal di Camp Nou. Arsenal kala itu mencetak sejarah sebagai tim yang tak pernah melakukan satu pun percobaan tembakan dalam 90 menit permainan.

5. Fabregas Akan Makin Diuji 
Tak adanya Iniesta untuk satu bulan ke depan dengan jadwal laga yang begitu padat akan membuat Pep Guardiola menjatuhkan pilihan lini tengah pada Fabregas.

Pembelian Fabregas makin terasa hikmahnya dengan situasi-situasi seperti ini. Fabregas, dengan gaya bermainnya sendiri, mampu mengisi lini tengah dan justru lebih tajam di depan bersama Lionel Messi. Fab sejauh ini sudah memasukkan empat gol bersama Barcelona, juga memberikan satu umpan kunci kala pertandingan lawan Sociedad.

Satu bulan ke depan adalah ujian bagi Fabregas. Jika dia bisa melewati ini dengan baik, Pep tak akan pernah khawatir lagi nanti kala Xavi sudah benar-benar pensiun.


Diolah dari artikel karya Michael Cummings di bleacherreport.com

4 komentar:

  1. lebayyyy.. milan juga maen tanpa ibra n binho.. gausa terlalu dewa2in gitu lah.. inget kalian main di kandang sendiri.. jdi hasil seri bisa dibilang kekalahan buat kalian..

    BalasHapus
  2. ulasan yang bagus.. "selalu ada celah yang harus dibenahi dalam tim ini"
    VISCA BARCA!! (yg pertamaxlah yg lebay :))

    BalasHapus
  3. amazing dah buat BARCA...i love it

    BalasHapus