Minggu, 18 September 2011

"Dream Team" Barcelona 1992, di Mana Mereka Sekarang (part II)?

Skud Barcelona di Final Liga Champions 1992 Wembley, London

CULES BARCA - Kemarin culesbarca.com sudah menerjemahkan part I. Sekarang kita akan lanjut ke part II. Ingin membaca dulu Part I? Lihat di sini.


Pengantar
Jauh sebelum era Franks Rijkaard dan Guardiola bersama gelar Liga Champions yang mereka raih, tim fantastis pertama peraih gelar Liga Champions yang mengakhiri penantian panjang fans Barcelona, adalah "Dream Team" yang diasuh oleh Johan Cruyff.

20 Mei 1992 adalah hari bersejarah bagi FC Barcelona. Saat itu mereka mengakhiri penantian panjang akan si kuping besar Trofi Liga Champions yang sebelumnya selalu lolos dari tangan punggawa Catalan.

Kekalahan menyakitkan atas Benfica (Final Champions 1961) dan Steaua Bucuresti (Final Champions 1986) akhirnya benar-benar bisa terlupakan dengan kemenangan 1-0 atas Sampdoria di Stadion Wembley, London.

Tendangan bebas Ronald Koeman 9 menit sebelum babak tambahan waktu berakhir mengantarkan Barcelona menang atas Sampdoria dan berhasil mengangkat trofi Liga Champhions untuk kali pertama!

19 tahun telah berlalu sejak kompetisi ini sekarang bernama Liga Champions, liga untuk para juara.

Kita sekarang akan melihat kehidupan tiap pemain yang berlaga di final Wembley 1992 itu. Di mana dan apa yang mereka lalukan sekarang. Tulisan ini dibuat oleh  Ibrahim Ayyub dan dimuat di Totalbarca.com. CulesBarca.com menerjemahkannya untuk cules di Indonesia (dan di manapun).

Pemain-pemain yang duduk di bangku cadangan di antaranya adalah: Carles Busquets, José Ramón Alexanko, Txiki Begiristain, Miguel Ángel Nadal, dan Ion Andoni Goikoetxea.

Carles Busquets
Carles Busquets, namanya mengingatkan kita akan gelandang bertahan Barca sekarang, Sergio Busquets. Dua orang ini memang punya hubungan darah, ayah dan anak. Berbeda dengan anaknya, Carles adalah seorang kiper. Dia menjadi kiper nomor dua di Barca, kalah pamor dari Zubizarreta yang dinilai lebih baik darinya.

Carles dipromosikan dari Barcelona B dan menjadi bagian dari tim utama dari 1988 sampai 1999. Sayangnya, penampilannya bersama Barca mengingatkan orang lebih banyak akan blunder-blunder yang dibuatnya.

Dia kemudian bermain untuk UE Lleida dan pensiun dari main bola setelah musim 2002-2003. Carles kembali ke Camp Nou menjadi pelatih penjaga gawang di akademi Barcelona. Dia menjadi pelatih utama penjaga gawang di tim senior Barcelona musim kemarin menggantikan posisi Unzue yang pergi. Tapi, dia kemudian memilih untuk kembali melatih kiper Barca B musim panas lalu.

José Ramón Alexanko

Alexanko adalah seorang bek tengah yang memulai karirnya bersama Barca pada 1980, juga kemudian menjadi kapten “Dream Team” hingga pensiunnya pada musim 1992-1993. Dia telah memainkan 200 pertandingan bersama Barca dan adalah orang pertama yang mengangkat Piala Champions untuk pertama kalinya (1992) sebagai ganti rugi atas Final 1986, tendangan penaltinya kala itu digagalkan kiper.

Setelah gantung sepatu, dia berkecimpung dalam manajemen sepakbola di FC Universitatea Craiova dan FC National Bucuresti di akhir tahun 90-an, dan kemduian menjadi asisten Carles Rexach ketika Rexach menangani FC Barcelona di musim 2001-2002.

Selama kepemimpinan Laporta, Alexanko masuk di kepemimpinan akademi Barcelona. Dia menjabat posisinya itu sejak 2005, sebelum kemudian Sandro Rosell menggantikan Laporta pada 2010. Pengganti Alexanko adalah temannya sendiri, di "Dream Team", Guillermo Amor.

Txiki Begiristain
Txiki adalah nama yang sangat dikenal oleh pendukung Barcelona sebagai pemain dan juga sebagai Direktur Teknik FC Barcelona.

Dia pertama kali bergabung dengan Barca pada tahun 1988, datang dari Real Sociedad dan kemudian meninggalkan Camp Nou pada 1995. Selama di Barca, dia berhasil memeluk empat gelar La Liga berturut-turut, Piala Winners dan Piala Champions. Sebelum pensiun di 1999, Txiki sempat bermain di Deportivo La Coruña dan Urawa Red Diamonds.

Setelah gantung sepatu, dia menjadi komentator bola di TV3 dan menjadi bagian dari presidensial FC Barcelona bersama Lluís Bassat di 1999.

Pada 2003, pemilihan presiden baru diadakan. Lluís Bassat dan Joan Laporta saling berhadap-hadapan dan Txiki mendukung nama terakhir. Setelah Laporta terpilih, Txiki ditunjuk menjadi Direktur Teknik, posisi yang terus dipegangnya selama era Laporta. Dia turun dari jabatannya setelah musim 2009-2010 dam penggantinya adalah temannya juga di "Dream Team”, sang kiper utama Zubizarreta.

Miguel Ángel Nadal

Nadal bergabung bersama FC Barcelona dari Mallorca pada 1991 sebagai seorang pemain bertahan.

Bersama Barca, dia tampil di 300 pertandingan, tapi meninggalkan Barca pada 1999 karena Van Gaal tak memilihnya di tempat utama. Dia kembali ke Mallorca dan kembali bersinar, baik di level klub maupun di level nasional, hingga akhirnya dia pensiun pada 2005.

Angel Nadal adalah juga paman dari salah satu pemain tenik terbaik dunia saat ini, Rafael Nadal. Dia sekarang menjadi asisten pelatih Michael Laudrup di Mallorca. Posisi ini disandanganya sejak musim lalu.

Ion Andoni Goikoetxea
Goikoetxea datang dari Osasuna pada 1988 tetapi sempat menghabiskan dua tahun di Real Sociedad sebagai pemain pinjaman. Dia kembali ke Camp Nou pada musim 1991-1992. Dia adalah satu dari sedikit pemain yang dapat bermain di semua posisi kecuali posisi penjaga gawang.

Dia mendapat penghargaan pemain terbaik versi Don Balon di musim pertamanya bersama Barca.

Dia meninggalkan klub setelah musim 1993-1994 dan bergabung ke Athletic Bilbao, Yokohama Marinos, dan Osasuna sebelum pensiun pada 1999. Ion kemudian melatih tim muda Osasuna dan menjadi asisten pelatih Osasuna dan sempat menjadi pelatih utama Ossasuna kala tim itu melawan Barcelona pada 2008, karena pelatih utama Cuco Ziganda saat itu sedang menjalani hukuman.

Dia terus mengikuti Ziganda dan menjadi asisten pelatih kala Ziganda menangani Xerez pada 2009-2010. Musim panas kemarin, Goiko mendapat tugas menangani tim muda Osasuna, Cadete A. Dia juga menjadi anggota tim pemain veteran indoor FC Barcelona.

_____________________________________________________________

Empat pemain di bawah ini tidak disertakan dalam Final Champions di Wembley pada 1992 terkait larangan bermain, batasan pemain asing dan batasan pemain cadangan. Mereka adalah Guillermo Amor, Cristóbal Parralo, Ricardo Serna dan Richard Witschge.

Guillermo Amor
Amor adalah didikan La Masia. Dia adalah seorang gelandang serang yang kemudian dipromosikan untuk masuk "Dream Team". Selama 10 tahun dia membela FC Barcelona. Debutnya adalah pada 1988 dan kemudian selama karirnya dia memenangkan 17 trofi, di antaranya 3 gelar Copa del Rey, 5 gelar La Liga, 2 Piala Winners, dan 1 Piala Champions.

Dia meninggalkan Camp Nou pada 1998 dan pergi bermain bersama untuk Fiorentina, Villarreal CF, dan Livingston FC sebelum pensiun pada 2003. Amor sempat menjadi Manajer Barcelona B pada 2003 hingga 2007. Kontraknya tidak diperbarui dan posisinya digantikan oleh Guardiola.

Amor melanjutkan aktivitasnya menjadi komentator di Telecinco. Amor pernah mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah dalam perjalanan pulang setelah menjadi komentator pertandingan pada 17 Desember 2007.

Anaknya sekarang bergabung di akademi Barcelona. Dia sekarang ini menjadi Direktur Akademi Olahraga Barca, menggantikan Alexanko, sejak Sandro Rosell menjadi presiden.

Cristóbal Parralo
Cristóbal adalah pemain muda Barca yang dipromosikan ke tim utama pada musim 1987-1988. Dia meninggalkan klub dan bermain untuk Real Oviedo dan Logroñés before sebelum kemudian kembali lagi ke Camp Nou pada musim 1991-1992. Dia hanya bermain di beberapa pertandingan dan kemudian pergi lagi setelah satu musim itu berakhir.

Dia selanjutnya bermain untuk Real Oviedo, Espanyol dan mengakhiri karirnya di PSG. Cristobal pensiun setelah musin 2002-2003.

Setelah gantung sepatu, dia menjadi asisten pelatih di Espanyol dan Benfica. Cristobal kemudian mengawali karirnya sebagia pelatih utama di di PD Santa Eulalia di Segunda B di musim 2008-2009. Kemudian, dia melatih Girona FC di Segunda División di musim 2009-2010 tetapi kemudian dipecat setelah 9 pertandingan di musim itu. Dia kemudian dikabarkan tak melatih tim manapun dan dirumorkan akan pergi ke Benfica sebagai pencari bakat muda.

Ricardo Serna
Serna datang ke FC Barcelona pada 1988 setelah enam tahun di Sevilla. Dia adalah bek untuk "Dream Team" dan tampil di lebih dari 100 pertandingan bersama Blaugrana.

Serna tak dipanggil, bahkan sekedar hanya untuk menghangatkan bangku cadangan di Final Champions 1992. Dia meninggalkan Camp Nou setelah final itu. Serna selanjutnya bermain bersama Deportivo La Coruña, Real Mallorca, Granada CF, sebelum mengakhiri karirnya di AD Ceuta setelah musim 1996-1997.

Dia kemudian menghabiskan waktunya di Andalusia autonomous football team (Selección de fútbol de Andalucía) sebelum kemudian peri ke IRT Tanger Morocco. Serna kembali ke Spanyol dan melatih Manchego CF di Tercera División. Pada June 2008, dia dikontrak oleh Club Deportivo di Tercera División tetapi kemudian dipecat pada November 2008. Dia belum melatih tim manapun saat ini. 

Richard Witschge
Witschge adalah pemain Belanda yang berposisi seabagai gelandang tengah. Dia dibeli di masa kepelatihan Cruyff dari Ajax Amsterdam di musim1991-1992. Richard hanya bertahan dua tahun di Camp Nou, tetapi dia bermain di 9 pertandingan Liga Champions di musim pertamanya.

Setelah musim 1992-1993, Witschge pergi dan bermain di FC Bordeaux, Blackburn Rovers, Ajax, Alavés, dan Oita Trinita di Jepang. Dia mengakhiri karirnya di Jepang setelah musim 2003-2004.

Masa pensiunnya diisi dengan menjadi asisten Aron Winter yang menangani tim reserve Ajax Amsterdam, Jong Ajax, tetapi dia tidak lama berada di sana. Kabarnya tak banyak diketahui sekarang ini.

_____________________________________________________________

Itulah pemain-pemain yang membantu FC Barcelona menjuarai Liga Champions untuk kali pertama.

Sekarang, Barcelona telah mengoleksi 4 gelar Liga Chamions di lemarinya dan rasanya Loz Azulgrana akan mengoleksi lebih banyak lagi.

Catatan penulis Ibrahim Ayyub di totalbarca.com: I would like to thank my friends Sonia, Xavi (no, not that Xavi) and Dutch reporter Ernst Bouwes for their help in this research. If you know of any updates or mistakes, please feel free to let me know so we can correct it.

Catatan penerjemah: Jangan sungkan untuk mengoreksi tulisan ini. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar