Minggu, 21 Agustus 2011

5 Alasan Kenapa Pep Guardiola Lebih Baik dari pada Jose Mourinho









FC BARCELONA INDONESIA - Pep Guardiola dan José Mourinho, dua nama yang tak mungkin terhindarkan dari perbincangan tentang siapa pelatih terbaik di dunia saat ini. FIFA memang sudah mengukuhkan Mourinho sebagai pelatih terbaik dunia pada 2010 lalu. Kala itu, Mourinho, yang kini menukangi Real Madrid, mendapat suara 35,92%. Guardiola kalah telak dengan hanya mengemas 8,45% hasil suara. Saingan terberat Morinho saat itu adalah Del Bosque, dengan 33,08% suara.

Dua pelatih, dua gaya kepemimpinan dan dua filosofi yang berbeda, tetapi mana di antara keduanya yang lebih baik? Sulit bicara mengenai siapa yang terbaik karena, berbeda dengan menilai pemain terbaik, seorang pelatih mempunyai sumber daya pemain yang berbeda-beda di tiap masa kepemimpinannya.

Tapi, ada enam pertimbangan kenapa Pep Guardiola lebih baik dari pada Jose Mourinho.

1
Jose Mourinho meraih 18 gelar selama 11 tahun karier kepemimpinannya sebagai pelatih. Pencapaian yang luar biasa, tetapi menjadi nomor dua rasanya jika dibandingkan dengan apa yang diraih Guardiola hanya dalam tiga tahun kepemimpinannya, 11 gelar termasuk yang terakhir Piala Super Spanyol.

Gelar-gelar yang dicapai Mourinho memang suatu langkah yang menakutkan siapa saja, tak diragukan lagi, tetapi apa yang dicapai Guardiola sungguh pencapaian yang tak pernah diraih siapapun sebelumnya, tiga tahun memimpin, 3 gelar La Liga (2009, 2010, 11), 1 gelar Copa del Rey (2009), 3 gelar Piala Super Spanyol (2009, 2010, 2011), 2 gelar Liga Champions UEFA (2009, 2011), 1 gelar Piala Super UEFA 2009 dan 1 gelar Piala Dunia Antarklub FIFA (2009).

Tak cukup? Rekor kemenangan Mourinho adalah 68,2 persen dari seluruh total pertandingan yang dimainkannya. Hmm, bagaimana jika faktanya Pep meraih 71 persen ratio kemenangan?

Jika kemenangan adalah kriteria mutlak untuk menentukan pemain terbaik, Pep Guardiola akan dengan mudah berada satu level di atas Mourinho. If winning is a criterion for being the best manager, Pep Guardiola easily trumps José Mourinho. Pelatih El Barca ini telah memenangkan 11 dari total 13 thropi yang dia ikuti. Tiga kegagalan Pep adalah pada Liga Champion 2010, Copa Del Ray (2010, 2011).


2
Bagi saya, ini bukan hanya soal angka, yang memang Pep lebih unggul, tapi juga soal filosofi bermain. Jelas apa yang diperlihatkan Pep lebih atraktif dari pada Mourinho. Pep makin menyempurnakan filosofi dan gaya bermain Barcelona yang dimulai oleh Johan Cruyff.

Sebaliknya, Mourinho mengandalkan sepak bola pragmatis dengan kemenangan sebagai tujuan utama. Tak peduli bagaimana cara Anda bermain, kemenangan adalah nomor satu. Mourinho sangat tidak keberatan mengorbankan cara bermain indah demi kemenangan. Ini memang pilihan yang diakui Mourinho secara terbuka. Contoh saja, dari empat gol Madrid ke gawang Viktor Valdes pada final Piala Super Spanyol, hanya satu gol dari Ozil yang menunjukkan suatu gol indah dan berkelas melalui serangan balik yang cepat. Sementara 3 gol lainnya melibatkan kerumunan di depan gawang. "An ugly gol by Benzema," kata komentator soal gol terakhir Madrid.

Pep Guardiola seolah berada di kutub yang berkebalikan dari Mourinho. Segera sesudah dia menjadi pelatih El Barca, dunia segera mengamini pertunjukan yang dibawakan Xavi dan kawan-kawan adalah referensi bermain bola bagi tim manapun di seluruh dunia. "Dari kecil saya menonton bola, dulu saya mengagumi bagaimana AC Milan bermain di zaman Maldini, setelah itu ada Ferguson di MU. Fantastis! Tapi apa yang diperlihatkan Barcelona sekarang ini sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Mereka bermain layaknya simfoni. Ini cara bermain terbaik yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya," kata seorang teman.

Fans dan para pengamat sepak bola memuji Pep yang telah membawa pencapaian baru dalam dunia sepak bola modern. Pelatih manapun di dunia (mungkin tidak dengan Mou), ingin anak asuhnya bermain layaknya Barcelona di tangan Guardiola. Inilah alasan juga kenapa pelatih Barcelona B, Luis Enrique dipinang Roma. Tidak lain untuk menularkan filosofi bermain La Masia.

Sekali lagi, Pep Guardiola dalam tiga tahun kepemimpinannya, tidak hanya memenangkan gelar, tapi dia terlebih memenangkan "filosofi dan gaya bermain", yang kemudian memenangkan hati banyak orang. Hal yang sama tak bisa dikatakan terhadap Mourinho, sebanyak apapun dia meraih gelar hingga saat ini.

Larissa Riquelme: Guardiola Lebih Seksi Dibanding Mourinho




FC BARCELONA INDONESIA - Larissa Riquelme, model panas asal Paraguay membuat pernyataan nakal di majalah Interviu. Sebenarnya tak hanya pernyataan nakal, tapi terlebih foto-foto nakalnya juga tampil di halaman depan majalah tersebut. Di majalah itu, dia berpose hampir (bahkan bukan hampir lagi) telanjang dengan jersey Real Madrid dan Barcelona.

"Guardiola is sexier than Mourinho" adalah judul headline dari majalah tersebut berdasar wawancara dengan Larissa. Cekidot fotonya :).

Pada piala dunia lalu, Larissa bikin heboh dengan berjanji akan bertelanjang ria jika sampai negaranya berhasil menjadi tim yang angkat Piala di Final turnamen akbar itu.

Di negaranya ia kini dijuluki "Novia del Mundial" atau apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia kurang lebih berarti 'Kekasih Piala Dunia' kepada AFP ia pun kembali membeberkan janji menggodanya itu.

"Jika Paraguay berhasil menjuarai Copa America maka saya bakal berpose telanjang di lapangan," katanya. Sabar, yang lagi puasa sabar. Btw, bagaimana tanggapan Anda Mr Guardiola? (cules indonesia)